×
About Us

Himpunan Alumni Sekolah Vokasi IPB (HA SV IPB) terbentuk pada tahun 2014 dengan semangat kebermafaatan. HA SV IPB sebagai wadah silaturahmi seluruh alumni Program Keahlian atau Program Studi di Fapoltan IPB, Diploma IPB dan Sekolah Vokasi IPB.

More About Us

WEBINAR PERINGATAN HARI ANAK NASIONAL 2020 ‘BERANI – Berkontribusi agar Anak Terlindungi”

(23/07) Departemen Sosial dan Pengabdian Masyarakat BEM Sekolah Vokasi IPB 2020 telah menyelenggarakan acara webinar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional dengan tema “‘BERANI – Berkontibusi agar Anak Terlindungi”. Acara tersebut dihadiri peserta sebanyak 199 orang dengan menggunakan media aplikasi konferensi Zoom.

Acara ini dilatarbelakangi karena, kondisi pandemi Covid-19 mengakibatkan kekerasan terhadap anak-anak semakin meningkat, sebanyak 3.000 anak menjadi korban kekerasan di rumah. Terdapat 1.848 anak mengalami kekerasan seksual, 852 anak mengalami kekerasan fisik, dan 768 anak mengalami kekerasan psikis (data diperoleh dari Save The Children). Oleh karena itulah di Hari Anak Nasional ini, Departemen Sosial dan Pengabdian Masyarakat BEM SV IPB mengadakan kegiatan webinar Peringatan Hari Anak Nasional 2020.

Acara ini diselenggarakan bertujuan sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pencegahan kekerasan anak di masa pandemi dan diharapkan untuk menekan angka kekerasan terhadap anak anak.

“Kepada teman-teman yang mengikuti webinar ini mari bersama-sama melindungi adik-adik kita, berikan yang terbaik bagi 80 juta anak di Indonesia, mereka adalah generasi penerus bangsa. Mari wujudkan Indonesia layak anak 2030, menuju Indonesia emas 2045” (Guruh Amanah Abdoe – Ketua BEM SV IPB 2020)

Acara ini dimoderatori oleh Cindy Nur Oktaviani selaku Facilitator of The Bandung District Children’s Forum. Serta narasumber (1.) Rahman Fauzi (Anggota Forum Anak Daerah Kabupaten Bandung dan Anggota Save The Children), (2.) Nabila Ishma (Tunas Muda Pemimpin Indonesia 2016 dan Wakil Ketua Forum Anak Nasional 2017-2018), dan (3.) Muhammad Uut Lutfi S.H, MH (Ketua LPA Provinsi Banten)

Di sesi pertama, Rahman Fauzi menerangkan kasus kekerasan anak yang masih terjadi di masa pandemi. Dari data yang ia peroleh, sebanyak 3000 anak menjadi korban kekerasan di rumah. Terdapat 1848 anak mengalami kekerasan seksual, 852 anak mengalami kekerasan fisik, dan 768 anak mengalami kekerasan psikis. Ia juga menuturkan bahwa 4 dari 10 orang tua tidak melakukan perlindungan terhadap anak-anaknya dari sisi negatif internet, 84% anak-anak usia 12-17 tahun mengalami perundungan di dunia maya dan 80,3% orang tua atau orang dewasa tidak melaporkan tindakan kekerasan pada lembaga layanan. “Sebagai seorang anak, kasih sayang adalah salah satu cara yang paling efektif untuk mengurangi kekerasan pada anak, maka lindungilah dan kasihilah anak, karena anak adalah calon penerus bangsa yang siap meneruskan cita-cita bangsa.”, pungkasnya.

Di sesi kedua, Nabila Ishma menjelaskan bahwa Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan lembaga negara lainnya memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk memberikan perlindungan khusus terhadap anak akan tetapi pencegahan kekerasan terhadap anak dimasa pandemi. Perlindungan dan pencegahan harus dimulai dari keluarga terlebih dahulu. Ia juga menyampaikan bahwa 8 fungsi keluarga untuk pencegahan kekerasan harus dijalankan, yaitu agama, cinta dan kasih sayang, sosial dan pendidikan, ekonomi, sosial budaya, perlindungan, reproduksi, dan lingkungan. “Anak adalah aset masa depan bagi Indonesia. Jadi, mari kita bersama-sama bersinergi untuk berenergi dalam melindungi mereka”, tutupnya.

Sementara di sesi terakhir, Muhammad Uut Lutfi membawakan materi berjudul “Melindungi Anak Tanggung Jawab Siapa?” Ia menekankan kembali poin mengenai anak yang merupakan aset bangsa, bagian dari generasi muda dan berperan besar sebagai generasi penerus. Segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari (tindak) kekerasan, dan diskriminasi seperti eksploitasi, pelecehan dan tindakan salah lainnya harus diperhatikan. Oleh karena itu perlu peran satuan pendidikan, media massa, dan dunia usaha untuk kepentingan terbaik bagi anak agar mereka merasa aman dan terlindungi. “Anak adalah buah hati, maka didiklah anak dengan sepenuh hati. Anak adalah amanah, maka didiklah anak bukan dengan amarah. Jadikan anak-anak yang berkualitas, anak-anak yang berakhlak mulia, anak-anak yang sejahtera dan yang mewujudkan anak-anak menjadi seperti itu adalah tanggung jawab kita semua.”, tuturnya.

Diskusi berlangsung dengan sesi tanya jawab antara peserta terhadap pembicara. Melalui webinar ini, para peserta diharapkan mendapatkan informasi bermanfaat tentang perlunya mencegah kekerasan anak di masa pandemi. Dan generasi muda harus berani berkontribusi untuk mewujudkannya. Webinar ditutup dengan apresiasi moderator terhadap pembicara dan peserta.